Skip to main content

Posts

Lamalera dan Rindu yang Tak Kunjung Selesai

Sumber Foto: Dok. Pribadi Ubas Tapoona Rindu adalah sesuatu yang tak akan selesai diuraikan. Rindu akan terpenuhi apabila kita merasakannya sendiri. Judul di atas mengingatkan bahwa rindu itu tak akan selesai-selesai. Seperti apa rindu yang tidak selesai-selesai itu. Yah, bagaikan rusa merindukan air dalam lagu rohani katolik, bagaikan pungguk merindukan bulan dalam peribahasa, begitu pula saya merindukan Lamalera. Bagaimana tidak Lamalera adalah sebuah kampung letaknya di selatan Kota Lembata-Propinsi NTT, Kampung yang terkenal dan dikagumi dengan tradisi perburuan Ikan paus secara tradisional dengan menggunakan peledang dan tempuling, kampung yang terkenal dengan misa leva setiap awal bulan Mei di setiap tahun yang sudah terkenal di NTT-Indonesia bahkan di luar negeri. Saya adalah salah satu pengagum kampung Lamalera dan orang-orang Lamalera yang saya jumpai di mana saja, yang pada umumnya adalah penulis, wartawan dan dosen mereka orang-orang Lamalera yang saya kagumi. Keka...

Orang-Orang Lewoeleng Tercinta

Orang Lewoeleng dan Kebiasaan- yang Bikin Rindu http://www.weeklyline.net/seni-budaya/20170808/buthu-altar-mistik-orang-lewoeleng.html Malam ini pukul 1:00, tepat sekali, saya tak bisa memejamkan mata . Entahlah pikiran yang kacau dan kerinduan yang tak pernah pupus, tentang tanah kelahiran, kampung Lewoeleng tercinta. Lewoeleng, sebuah desa yang ada di pulau kecil Lembata namanya. Jalan berliku dipagari hutan kemiri di kiri dan kanan jalan, membuat Lewoeleng semakin sejuk. Berada di ketinggian seperti namanya Lewo kampung dan Eleng yang artinta langit apabila digabungkan maka artinya Kampung Langit atau Kampung di atas langit, membuat Lewoeleng semakin megah, tapi tidak angkuh. Suasana sejuk semakin menggambarkan suasana hati orang-orang asli kampung ini. Tapi tunggu dulu, ya tapi tunggu dulu, orang-orang Lewoeleng memiliki watak yang keras. Ada yang mengatakan jika baik maka melebihi kebaikan malaikat, tetapi jika jahat, maka amarahnya melebihi lusifer. Pepatah lep...

PUISI MILLA LOLONG

TANGIS PILU Langit menampakan awan hitam, rupanya mendung membawa luka sukma di dada Di luar lolongan anjing tetangga semakin menjadi-jadi Angin berhembus kencang bersama hujan deras. Deras; serupa dendam Kain pada Habel; musnahlah! Angin mengobrak-abrik atap bagunan tua. Jeritan anak-anak terdengar di mana-mana Ibu-ibu berteriak histeris di antara luapan air. Piluh nian. Bencana. Tak ada bahtera Nuh di sini. 2019 TOLERANSI Toleransi itu semisal: Di suatu waktu pukul enam sore Setelah lonceng gereja berdentang Dan doa angelus selesai didaraskan Terdengar pula di sana Bunyi bedug dipukul Kemudian... Seusai itu Burung gereja Meliuk-liuk menuju bunyi beduk Di masjidmu Mereka mencipta sarang baru Di tepi serambi masjid dan menetas di sana. "Kita Adalah Satu" 2018 *Milla Lolong. Tinggal di Suatu Tempat. *Puisi ini telah di Media Cetak Flores Pos Edisi Selasa, 26 Mare 2019

PUISI-PUISI MILLA LOLONG

Ke Rumahmu Setelah gemuruh itu pecah Ibu-ibu meratap memeluk perih Bapak-bapak tergelepar di tepi Anak-anak jadi yatim-piatu Setelah gemuruh itu pecah Camar-camar mengais Tubuh berlumur lumpur Setelah gemuruh itu pecah Segalanya berbondong ke rumahMU Ke rumahMU setelah segalanya selesai. Oktober 2018 SALAM Salam ya Maria Bundaku Di malam yang gigil ini Selimutilah dingin hatiku yang angkuh ini Salam ya Maria Bundaku Di Oktober yang kering ini Basahilah kerongkong hatiku Yang kerontang ini Salam ya Maria Bundaku Di rosario yang kuhitung ini Siramlah rahmatmu Tebuslah segala mohonku. Oktober 2018 Elegi Pulang * Lalu kita menatap Sisa-sisa sepi Yang sia-sia Dari tiap detaki waktu Sebab… Pulang adalah saat Yang tetap untuk Menetap dan menadah rahmat Pada rumah Tempat segala cinta direnda Tumbuh dan tercurah Tanpa kecurangan. September 2018 *puisi ini telah dimuat di harian Flores Pos

PUISI-PUISI MILLA LOLONG

HUJAN DAN INGATAN Ada beberapa hal yang melintas di dalam kepala ketika hujan. Ibu yang sedang menahan sakit Tersebab ulah-ulah kita Dan bapak yang sedang geram Memandang laku kita Ada beberapa hal yang terbayang Ketika hujan Semesta yang sedang mengintip dengan sayu Desahan dan strategi di ruang sepi Sampai entah. Terpujilah engkau hujan dan ingatan! September, 2018 MIMPI Baiklah aku menjadikan Rindu pada dada ingatan Dan pecah di jantung mimpimu “Pecalah mimpi di anak malam” Maka jadilah rindu Pada kenangan Yang beranak pinak. Oktober, 2018 ADALAH ENGKAU Kepada: Pemilik Puisi Adalah engkau syair yang takkan pernah berhenti ku daraskan Adalah engkau Rindu yang tiada Habis-habisnya Ku puisikan Adalah engkau sembahyang Yang ku rapalkan di sudut sujudku Kemari(lah)! Tumpahkan rindu (kita) Di lereng bukit (bukit) Yang ranum ini Sembari berbaring Di tepi ombak yang setia mengecup bibir pantai Demikian kita pun saling! Wade-Lembata, 13...

PUISI-PUISI MILLA LOLONG

HUJAN DAN INGATAN Ada beberapa hal yang melintas di dalam kepala ketika hujan. Ibu yang sedang menahan sakit Tersebab ulah-ulah kita Dan bapak yang sedang geram Memandang laku kita Ada beberapa hal yang terbayang Ketika hujan Semesta yang sedang mengintip dengan sayu Desahan dan strategi di ruang sepi Sampai entah. Terpujilah engkau hujan dan ingatan! September, 2018 ADALAH ENGKAU Kepada: Pemilik Puisi Adalah engkau syair yang takkan pernah berhenti ku daraskan Adalah engkau Rindu yang tiada Habis-habisnya Ku puisikan Adalah engkau sembahyang Yang ku rapalkan di sudut sujudku Kemari(lah)! Tumpahkan rindu (kita) Di lereng bukit (bukit) Yang ranum ini Sembari berbaring Di tepi ombak yang setia mengecup bibir pantai Demikian kita pun saling! Wade-Lembata, 13 Juli 2018 Milla Lolong. Perempuan Lembata, Lahir di kampung Lewoeleng.

PADA SEBUAH KAPAL

PADA SEBUAH KAPAL 01 Pada sebuah kapal Badai pun patuh Diam! Hanya ada nyanyian Dari mulutmu Yang terdengar sakit Puisi-puisi menjadi bisu Di bilik sunyi Pada sebuah kapal Kita berlayar Menuju pada kepenuhan. Selat Gonsalu, September 2018 PADA SEBUAH KAPAL 02 Pada sebuah kapal Ketika gemintang Tak bergeming Engkau mendaraskan Harap di dada ini Pada sebuah kapal Tak kala purnama Merona Engkau merapal doa Di jantung ini Pada sebuah kapal Seusai gelombang Menjadi patuh Engkau meninggalkan Air matamu di sini Pada sebuah kapal Engkau meninggal-kan Wangi tubuh dan peluhmu di sini Dan ... Selesai! Selat Gonsalu, September 2018 Milla Lolong, Perempuan Lembata. Lahir di kampung Lewoeleng. Suka jalan-jalan.

IBU DAN SENI MENYEMBUNYIKAN

IBU DAN SENI MENYEMBUNYIKAN Oleh Milla Lolong   Ilustrasi              Malam sepertinya begitu gelap, langit enggan menampakan cahaya sedikitpun. Suasana begitu mencekam. Terdengar dari sebuah rumah diujung sebuah kampung seorang ibu setengah tua, dengan sedikit uban di atas kepalanya, kulitnya tidak kencang lagi membungkus tulang wajahnya. Dia ibu Helena. Ibu Helena tengah berbisik kepada anak-anaknya. “Ini cukup untuk makan malam kita nak,” ucap ibu Helena dengan mata berkaca-kaca sembari membelai rambut anak-anaknya. Ibu sudah kenyang tambahnya lagi. Memang ibunya suka berbohong kepada anak-anaknya bahwa ia sudah makan, dia sudah minum. Padahal yang sungguhnya perutnya sedang lapar minta diisi. Betapa kuat ibu mengemas semunyanya itu demi anak-anaknya. Mereka menetap di sebuah kampung dimana situasi masyarakat saat itu hidup saling membenci, yang susah makin susah dan yang kaya senang melihat mereka yang susah. Hidup saling gunting-menguntin...

PUISI

PANTASKAH? (2) Tuhan... Masih pantaskah sujudku Di atas sejadah tinggi hatiku Yang masih membedakan kasta sesama Tuhan.... Masih patutkah aku berdoa Dimana lantun doa kusamakan Mantramantra pemuja berhala? Tuhan.... Masih pantaskah aku menuju altar Mu Jika dendam dan dengki ku pupuki Disetiap hari yang kuhadapi Kapela,Desember 2016 *Penulis Mahasiswa Uniflor Pecinta Tuhan dan Puisi Sedang mencintai Dia (S)

JULIA!

Perihal Pulang dan Cinta Oleh: Milla Lolong Agustus  pun hendak berakhir kala itu pucuk-pucuk mengering ,karena panas membakar, pohon-pohon kerdil, ranting-ranting pun seakan tak berhelai, kerikil-kerikil semakin tajam saja di injak oleh kaki pejalan kaki, yang pergi memburu rasa. Senja sudah memeluk gelap. Pertanda malam tiba dan  liburan berakhir,  Julia yang waktu itu berlibur di kampungnya menjadi gelisah, Julia mesti  pulang pada tempat dimana dia mamahat aksara, mengejar cita pun cinta. Sehari sebelumnya ia sibuk sekali mengemas pakainannya barangg-barang yang hendak ia bawa serta tak lupa pesan-pesan yang disampaikan sahabat kenalannya. Salah satu teman lamanya ah bukan kekasih lamanya berpesan; pergilah kejarlah citamu baik-baik, jangan terlalu lama di luar sana dengan hal-hal yang tidak penting bagimu, Julia membaca isi pesan itu di ponselnya dan mengucapkan terima kasih kepada kekasih lamanya itu. Mantan kekasih. Tidak hanya itu kekasinya yang sekarang j...